Sabtu, 14 September 2013

observasi strategi pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang saat ini sedang berkembang. Seiring berjalannya waktu dengan semakin pesatnya perkembangan jaman dan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya dalam bidang pendidikan sangat dibutuhkan. Pendidikan pada era globalisasi ini sudah menjadi suatu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Adanya pendidikan sangat memengaruhi kualitas suatu bangsa. Mahasiswa calon guru sekolah dasar perlu sejak dini mengetahui tentang cara mengajar yang baik. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Salah satu diantaranya adalah strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Strategi belajar mengajar merupakan pola umum perbuatan guru-murid didalam perwujudan kegiatan belajar mengajar yang menunjuk kepada karakteristik abstrak dari pada rentetan perbuatan guru-murid tersebut.
Strategi pembelajaran sangat menunjang proses pembelajaran. Pemilihan strategi pembelajaran sangat menunjang terjadinya proses pembelajaran yang menyenangkan. Dalam mengajar guru harus pandai menggunakan strategi secara arif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didiknya. Karena pada dasarnya tiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Guru harus menguasai setiap perbedaan pada anak SD. Kemampuan anak SD pun berbeda-beda. Guru tidak boleh memaksakan kemampuan siswa yang kurang dengan siswa yang kemampuannya tinggi. Selain itu, guru juga harus pandai mengelola kelas agar tercipta pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Hal ini yang mempengaruhi strategi yang diambil guru dalam pembelajaran. Jika guru sudah menerapkan strategi pembelajaran yang tepat, maka tujuan pembelajaran akan dapat tercapai.
Pengetahuan tentang strategi-strategi mengajar sangat diperlukan oleh para pendidik, sebab salah satu indikator berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya strategi mengajar yang digunakan oleh guru. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon guru sekolah dasar perlu melaksanakan observasi awal guna mengamati strategi pembelajaran yang digunakan seorang guru dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran biasanya tercantum di dalam RPP. Observasi ini, nantinya akan sangat berguna bagi calon guru agar bisa menerapkan proses pembelajarn yang lebih baik lagi dan bisa menerapkan strategi yang tepat. Maka dari itu penulis mengadakan observasi mengenai hal tersebut pada salah satu SD yang ada di singaraja yaitu SD Negeri 2 Padang Bulia.

1.2  Tujuan
Observasi ini bertujuan untuk:
a)      Mengetahui jenis strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran kelas II SDN 2 Padangbulia.
b)      Mengetahui kesesuaian strategi dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
c)      Mengetahui kesesuaian strategi dengan langkah-langkah pembelajaran.
d)     Mengetahui kesesuaian strategi pembelajaran yang dirancang dalam RPP dengan aplikasinya dalam proses pembelajaran.
e)      Mengetahui kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran yang diterapkan
f)       Mengetahui efektivitas strategi pembelajaran yang diterapkan.

1.3  Manfaat
Adapun manfaat observasi yang dilakukan adalah:
1.         Bagi guru
Melalui observasi ini diharapkan guru dapat merefleksi pelaksanaan kegiatan pembelajaran tentang pentingnya penggunaan strategi dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas agar proses pembelajaran yang dilakukan bisa lebih inovatif dan menyenangkan sesuai dengan karakteristik siswa.
2.         Bagi penulis
Melalui observasi ini diharapkan penulis mengetahui keadaan real di lapangan mengenai penggunaan media. Sehingga nantinya dapat mengaplikasikan ilmu yang diterimanya di bangku perkuliahan khususnya mengenai penggunaan strategi dalam proses pembelajaran.























BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 HASIL OBSERVASI
Nama Sekolah                  : SD Negeri 2 Padangbulia
Alamat                             : Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada.
Status Sekolah                 : Negeri
Luas Tanah                       : 17 are
Jumlah Ruang Kelas        : 6 ruangan
Nama Kepala Sekolah      : I. Gst. A. Pt Sri Darmawati, S.Pd.
NIP                                  : 19720225 199203 2 009
Guru Pengajar                  : Ni Luh Saring
NIP                                  : 19630322 198507 2 001
Mata Pelajaran                 : PKN
Kelas yang diobservasi    : II
Semester                           : 2

TABEL 2.1
Hasil Observasi SDN 2 Padangbulia
No
Komponen Observasi
Hasil Observasi
1
Jenis strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran kelas II SDN 2 Padangbulia
Hasil observasi yang dilakukan di SDN 2 Padangbulia untuk siswa kelas II pada mata pelajaran PKN, guru menerapkan strategi ceramah dalam proses pembelajaran.
2
Kesesuaian penerapan strategi dengan tujuan pembelajaran
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan RPP, penggunaan strategi ceramah kurang tepat diterapkan.
3
Kesesuaian penerapan strategi dengan langkah-langkah pembelajaran
Strategi yang digunakan oleh guru sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP, namun langkah-langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP belum sesuai dengan Permen 41.
4
Kesesuaian strategi pembelajaran yang dirancang dalam RPP dengan aplikasinya dalam proses pembelajaran
Strategi yang dirancang dalam RPP sesuai dengan aplikasi/penerapannya di kelas.
5
Kelebihan strategi yang diterapkan
1.     Dapat diikuti oleh semua peserta didik
2.    Guru dapat mengontrol keadaan kelas
3.    Guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang disampaikan
6
Kekurangan strategi yang diterapkan
1.    Membosankan
2.    Siswa susah memahami materi/informasi yang disampaikan
3.    Siswa menjadi pasif
7
Efektivitas strategi pembelajaran yang diterapkan
Tidak efektif.

2.2 PEMBAHASAN
A.      Jenis Strategi yang Dipilih
Hasil observasi yang dilakukan di SDN 2 Padangbulia untuk siswa kelas II pada mata pelajaran PKN, guru menerapkan strategi ceramah dalam proses pembelajaran. Namun dalam RPP, strategi ini didukung dengan beberapa metode pembelajaran yaitu diskusi, penugasan, kuis dan tanya jawab. Pada dasarnya banyak jenis strategi yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran. Penerapan strategi pembelajaran harus mempertimbangkan beberapa faktor, salah satunya adalah karakteristik siswa yang diajar. Hal ini dianggap penting karena strategi pembelajaran yang dipilih guru akan menunjang tercapainya suatu tujuan pembelajaran. Sebaliknya apabila guru salah dalam menentukan strategi yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai guru tidak akan tercapai. Maka dalam memulai suatu perencanaan pembelajaran harus dimulai dari pemilihan strategi yang cocok bagi peserta didiknya. 

B.       Kesesuaian Penerapan Strategi dengan Tujuan Pembelajaran yang Hendak Dicapai
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan RPP, penggunaan strategi ceramah kurang tepat diterapkan. Tujuan pembelajaran yang terdapat dalam RPP yaitu, (1) Memahami dan membiasakan melakukan sikap demokratis dalam kehidupan sehari-hari. (2) memahami dan menampilkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. (3) Membiasakan untuk bersikap jujur, disiplin, dan senang bekerja. (4) Merasakan manfaat hidup penuh dengan nilai-nilai pancasila, misalnya berprilaku jujur, disiplin, lapang dada, dan senang bekerja. Dari penjabaran di atas strategi simulasi hendaknya lebih cocok diterapkan dalam proses pembelajaran tersebut, karena straegi simulasi memiliki beberapa keunggulan yaitu siswa memperoleh pengalaman langsung dalam situasi yang nyata, menyenangkan bagi siswa, interaksi siswa dapat menimbulkan keakraban, dll.
Karekteristik siswa kelas dua pada umumnya masih pada tahap operasional Konkret (Taksonomi Bloom). Pada tahap ini siswa cenderung dalam memahami suatu masalah atau pelajaran dengan bantuan benda-benda konkret, bukan secara abstrak yang hanya dengan menjelaskan suatu hal tanpa adanya suatu contoh yang nyata. Aplikasi strategi ceramah pada umunya lebih menjurus kepada menjelaskan suatu materi secara langsung tanpa dibantu dengan suatu hal yang bersifat nyata. Oleh karena itu strategi yang cocok adalah strategi simulasi.

C.      Kesesuaian Penerapan Strategi dengan Langkah-Langkah Pembelajaran
Strategi yang digunakan oleh guru sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP, namun langkah-langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP belum sesuai dengan Permen 41. Dalam Permen 41 dijabarkan mengenai kegiatan inti yang terdiri dari eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Namun RPP yang dibuat guru yang diobservasi tidak mencantumkan penjabaran dari kegiatan inti tersebut. Langkah-langkah pembelajaran pada tahap eksplorasi pada dasarnya mencantumkan kegiatan siswa mencari informasi tentang topik atau materi yang akan dipelajari dengan memanfaatkan buku sumber yang ada. Pada tahap elaborasi siswa berusaha memecahkan suatu masalah yang diberikan oleh guru dengan berbagai kegiatan (diskusi, tanya jawab, sharing, dll). Setelah menemukan solusi dalam pemecahan masalah tersebut, kemudian dilakukan kegiatan presentasi untuk diberikan suatu tanggapan oleh siswa maupun guru. Pada tahap konfirmasi guru memberikan tanggapan mengenai pernyataan atau jawaban dari siswa yang dianggap masih kurang tepat agar kesalahan pemahaman konsep dapat diminimalisir. Berdasarkan pengamatan, strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran adalah strategi ceramah, Hal ini dibuktikan pada salah satu komponen RPP yaitu langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan strategi yang diterapkan. Langkah-langkah pembelajaran pada kegiatan inti sudah mencantumkan penjabaran strategi ceramah pada butir satu, dan lima dan tujuh. (RPP Terlampir)

D.      Kesesuaian Strategi Pembelajaran yang Dirancang dalam RPP dengan Aplikasinya dalam Proses Pembelajaran
Strategi yang dirancang dalam RPP sesuai dengan aplikasi/penerapannya di kelas. Strategi yang tercantum dalam RPP adalah strategi ceramah namun tidak tercantum secara implisit. Hal ini sesuai dengan aplikasinya di kelas yaitu guru menerapkan strategi ceramah dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran yang guru lakukan pada saat pengamatan yaitu guru menjelaskan materi tentang kedisiplinan dan kejujuran, sedangkan siswa mencatat materi yang dijelaskan oleh guru. Langkah selanjutnya siswa diberikan beberapa pertanyaan secara lisan berkaitan dengan materi yang dijelaskan oleh guru. Kemudian siswa yang ditunjuk berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Beberapa pertanyaan yang kurang tepat dijawab oleh siswa langsung dikonfirmasi oleh guru. Hal tersebut menunjukkan bahwa strategi yang tercantum dalam RPP sesuai dengan penerapannya di kelas.

E.       Kelebihan dan Kekurangan Strategi yang Diterapkan
Adapun kelebihan dan kekurangan dari strategi ceramah adalah sebagai berikut.
TABEL 2.2
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN STRATEGI CERAMAH
No
Strategi Ceramah
Kelebihan
Kekurangan
1
Lebih mudah diterapkan
Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru
2
Lebih mudah mengorganisasi kelas
Siswa cenderung terlihat bosan
3
Guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang diajarkan
Proses pembelajaran tidak inovatif
4
Guru dapat mengontrol keadaan kelas
Pembelajaran hanya dilakukan satu arah
5
Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar
Siswa terlihat pasif
6

Kurang memanfaatkan media pembelajaran yang ada

Kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada saat observasi hendaknya bisa diatasi dengan berbagai cara/solusi antara lain.
1.        Strategi ceramah dalam penerapannya divariasikan dengan beberapa metode yang mendukung
2.        Membangun minat siswa dengan menyajikan materi yang menarik
3.        Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya
4.        Guru harus kreatif menciptakan situasi belajar yang menyenangkan

F.       Efektivitas Strategi Pembelajaran yang Diterapkan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di kelas, penerapan strategi ceramah pada proses pembelajaran dirasakan kurang efektif. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang tidak mendengarkan penjelasan dari guru saat proses pembelajaran, melainkan banyak siswa yang berbincang-bincang dengan teman-teman sekitarnya. Pada proses tanya jawab sebagian besar siswa kurang aktif dalam kegiatan ini bahkan terdapat beberapa siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh  guru. Dengan banyaknya siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru maka dikhawatirkan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai, karena soal (evaluasi) merupakan indikator pengukuran tercapainya suatu tujuan pembelajaran. Maka dapat disumpulkan bahwa penggunaan strategi ceramah kurang tepat diterapkan dikelas II SDN 2 Padangbulia. Seharusnya guru segara mengganti strategi yang digunakan atau memodifikasi dengan menerapkan bantuan metode-metode inovatif yang mendukung strategi ceramah. Sehingga nantinya ada perbaikan sikap dan kemampuan kognitif siswa yang lebih baik lagi serta pembelajaran I2M3 (Inovatif, Inspiratif, Menantang, Menyenangkan, dan Memotifasi) dapat terlaksana.





























BAB III
PENUTUP

3.1    Simpulan
1.      Hasil observasi yang dilakukan di SD 2 Padangbulia untuk siswa kelas II pada mata pelajaran PKN, guru menerapkan strategi ceramah dalam proses pembelajaran.
2.      Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan RPP, penggunaan strategi ceramah kurang tepat diterapkan.
3.      Strategi yang digunakan oleh guru sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP, namun langkah-langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP belum sesuai dengan Permen 41.
4.      Strategi yang dirancang dalam RPP sesuai dengan aplikasi/penerapannya di kelas.
5.      Kelebihan dari strategi pembelajaran yang dipilih adalah strategi ceramah lebih mudah diterapkan, lebih mudah mengorganisasi kelas, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang diajarkan, guru dapat mengontrol keadaan kelas, dan dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar.
6.      Kekurangan dari strategi pembelajaran yang dipilih adalah siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, siswa cenderung terlihat bosan, proses pembelajaran tidak inovatif, pembelajaran hanya dilakukan satu arah, siswa terlihat pasif, dan kurang memanfaatkan media pembelajaran yang ada.
3.2    Saran
Dalam melaksanakan proses pembelajaran hendaknya guru harus mem Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang nantinya digunakan sebagai pedoman agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guru juga harus menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik agar pembelajaran bisa lebih efektif. 


Kamis, 04 Juli 2013

WAWANCARA

A.      BIODATA GURU
Nama                           : Ni Wayan Milih, S.Pd., SD.
NIP                             : 195509291983042002
Jabatan                                    : Pembina IV/a
Pendidikan Tinggi       : S1
Tempa Tanggal Lahir   : Kaliakah, 29 September 1955
Umur                           : 60 tahun
Alamat                                    : Desa Kaliakah, Negara
Riwayat Pendidikan
No.
Jenjang Pendidikan
Tempat
Tahun Tamat
1.
SD Negeri 1 Kaliakah
Negara
1969
2.
SMP Negeri 1 Negara
Negara
1971
3.
Sekolah Kesejahtraan Keluarga (SKKA) Negeri
-
1974
4.
Kursus Pendidikan Guru (KPG)
-
1982
4.
Universitas Terbuka Denpasar
Denpasar
2000
5.
Universitas Terbuka Denpasar
Denpasar
2010

Riwayat Pekerjaan
No.
Tempat
Masa kerja (Tahun)
1.
SD Negeri 3 Tegal Badeng Barat
1983 – 1986
2.
SD Negeri 4 Banyubiru
1986 – 1990
3.
SD Negeri 4 Kaliakah
1990 – 2000
4.
SD Negeri 1 Kaliakah
2000 – Sekarang


B.       HASIL WAWANCARA
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan guru kelas VI SDN 1 Kaliakah.
1.        Apakah mengetahui teori-teori belajar? Teori apa saja yang diketahui? Bagaimana penerapan teori-teori tersebut dalam proses pembelajaran?
Berdasarkan hasil wawancara, narasumber mengetahui tentang teori-teori belajar. Teori-teori belajar yang dimaksudkan oleh guru adalah pedoman dalam melakukan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Teori belajar yang diketahui oleh narasumber yaitu teori belajar kontruktivisme. Pada dasarnya teori ini bertujuan membangun pengatuhuan siswa. Siswa diwajibkan aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peran siswa lebih dominan dari peran guru (Student Center). Peran guru pada penerapan teori ini hanya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan fasilitas kepada siswa untuk memahami pengetahuan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dituntut sebagai motivator, yang bertugas memotivasi siswa untuk bersemangat dalam proses pembelajaran.
2.        Bagaimana paradigma pendidikan seharusnya? Apakah perlu paradigma baru? Yang seperti apa?
Paradigma pendidikan khsusnya pada kurikulum menuai kritikan dari narasumber. Menurutnya kurikulum yang digunakan saat ini (KTSP) mempunyai banyak kekurangan. Kegiatan administrasi perencanaan pembelajaran sangat menguras perhatian guru, sehinnga terindikasi proses pembelajaran akan terbengkalai. Karena sebelum melakukan proses pembelajaran diwajibkan membuat RPP dan Silabus yang sistematikanya lebih kompleks dari kurikulum sebelumnya. Dalam penyusunan RPP ini guru dituntut untuk memahami karakteristik siswanya dalam merancang RPP agar tujuan pembelajaran tercapai. Memahami karekteristik siswa yang dianggap guru susah, sehingga model pembelajaran yang diterapkan pun sulit ditentukan. Seharusnya menurut narasumber diperlukan kurikulum yang lebih memudahkan guru dalam perancangan rencana pelaksanaan pembelajaran, sehingga guru lebih fokus dalam proses pembelajran.
3.        Bagaimana menilai pembelajaran sebagai sebuah proses?
Menurut narasumber, penilaian yang dilakukan dalam proses pembelajaran menekankan kepada penilaian proses. Hal ini diterapkan karena guru kurang percaya terhadap tes akhir yang dilakukan serentak kepada siswa. Penilaian dengan tes akhir terindikasi banyak siswa yang melakukan kecungan. Dalam penilaian proses keaktifan siswa berperan dalam penilaian ini. Dengan tanya jawab disela-sela proses pembelajaran tentunya kemampuan siswa yang sebenarnya akan terlihat, mana siswa yang memahami pelajaran dan mana siswa yang belum memahami pelajaran akan terlihat. Penilaian proses ini dibantu dengan buku catatan yang dimiliki guru untuk mencatat keaktifan siswa dan perkembangan siswa.
4.        Bagaimana strategi pengorganisasian pembelajaran yang biasa dilakukan?
Menurut narasumber strategi yang digunakan dalam pembelajaran cenderung menggunakan strategi ceramah, namun pada penerapannya didukung oleh beberapa macam metode diantaranya metode diskusi, penugasan, tanya jawab, dan metode-metode lainnya sesuai dengan mata pelajaran serta karekteristik siswanya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah siswa menerima pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
5.        Bagaimana cara mengenal dan mengatasi masalah belajar?
Menurut narasumber cara mengenal masalah belajar siswa dilakukan dengan berbagai cara, pada umumnya guru melihat masalah yang dialami siswa dengan tes evaluasi apabila tes evaluasi yang dikerjakan oleh siswa cenderung kurang maka guru mencari tau apa yang menjadi permasalahan siswa tersebut dengan cara mengamati keadaan siswa sehari-hari. Kemudian dilakukan upaya pendekatan kepada siswa untuk mengetahui permasalahan yang dialaminya. Sehingga guru mengetahui cara menanggulangi permasalahan yang dialami siswa dan permasalahan siswa akan cepat terselesaikan. Selain itu masalah belajar siswa juga dapat dilihat dari proses belajar siswa. Dari proses belajar guru bisa mengetahui cara belajar masing-masing siswa. Guru dapat mengetahui masalah siswa dari cara belajar siswa tersebut.         
6.        Bagaimana proses evaluasi yang dilakukan? Apakah ada pertimbangan lain selain kemampuan akademik siswa?
Menurut pernyataan narasumber proses evaluasi yang dilakukan mengarah kepada 3 komponen hasil belajar, yakni mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Pada komponen penilaian kognitif guru melakukan proses penilaian dengan cara melakukan tes evaluasi, sedangkan pada ranah afektif dan psikomotor guru menerapkan system pengamatan dan pencatatatn pada lembar observasi. Dalam mempertimbangkan kenaikan kelas siswa, guru tidak hanya berpatokan pada kemampuan kognitif siswa saja melainkan guru mempertimbangkan pada aspek sikap siswa sehari-hari (tingkah laku), dan kehadiran siswa pada proses pembelajaran. Pada intinya penilaian tidak hanya tergantung pada kemampuan akademik siswa saja melainkan mencakup nilai sikap dan kehadiran siswa dalam proses pembelajaran.
7.        Bagaimana cara memancing apersepsi anak? Apakah menggunakan metode yang bervariasi? Berikan contohnya!
Menurut pernyataan narasumber dalam proses apersepsi guru hanya melakukan proses tanya jawab untuk mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang akan dibahas.
Contohnya,
Materi yang akan dibahas pada pertemuan sekarang adalah mengenai simetri lipat pada bangun datar. Guru mengaitkan materi dengan materi yang telah dibahas sebelumnya, yaitu menanyakan “kalian masih ingat tentang materi bangun datar minggu lalu?”, “bangun datar apa saja yang sudah kita pelajari?” dan pertanyaan-pertanyaan terkait lainnya.
8.        Bagaimana cara mengelola kelas agar efektif? Bagaimana mengatasi masalah yang biasanya timbul dalam pengelolaan kelas?
Menurut pertanyaan narasumber cara mengelola kelas agar efektif adalah dengan cara menerapkan metode-metode pembelajaran yang bervariasi tergantung pada materi bahasan serta mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan siswa.
Cara mengatasi masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas menurut pernyataan narasumber adalah dengan melihat terlebih dahulu masalah apa yang dialami siswa, masalah di bagi menjadi 2 antara lain, masalah pembelajaran dan sikap siswa dikelas. Saat siswa mengalami masalah dalam pembelajaran, narasumber melakukan beberapa langkah antara lain:
a.         Pengajaran individu kepada siswa yang bersangkutan tentang materi yang belum dipahami
b.         Melakukan penggulangan penjelasan materi apabila sebagian besar siswa tidak memahami materi.
Saat siswa mengalami masalah sikap yang kurang baik saat proses pembelajaran narasumber melakukan beberapa langkah antara lain:
a.         Melakukan pendekatan secara individu kepada siswa yang bermasalah mengenai sikap yang kurang baik pada proses pembelajaran.
b.         Mencari solusi atau alternatif pemecahan masalah yang dialami oleh siswa tersebut.
9.        Bagaimana mengelola kondisi emosional siswa? Apakah digunakan pada proses penilaian?
Menurut narasumber cara mengelola kondisi emosional siswa dengan cara mengemas pembelajaran yang dapat diterima oleh semua siswa, sehingga nantinya fokus siswa terhadap proses pembelajaran dapat terjaga. Dalam proses penilaian yang dilakukan oleh narasumber mengamati sikap (Emosional) siswa dilakukan dalam proses pembelajaran dan dilakukan pencatatan dengan lembar observasi (Penilaian Afektif).
10.    Apa indikator keberhasilan pembelajaran di kelas? Apakah ada pengaruh subjetivitas?
Menurut penjelasan dari narasumber indikator keberhasilan pembelajaran siswa di kelas ditinjau dari keberhasilan siswa dalam memperoleh nilai yang sesuai dengan kriteria ketuntasan minimun (KKM). Dalam melakukan proses penilaian narasumber tidak melakukan secara subjektif melainkan secara objektif. Subjektif yang dimaksudkan disini adalah pengaruh dari latar belakang keluarga, kemampuan meteriaiil siswa, dll.  
11.    Apakah sudah terdapat piranti E-Learning? Bagaimana aplikasinya di sekolah?
Menurut pernyataan narasumber piranti, E-Learning sudah terdapat disekolah. Piranti tersebut mencakup LCD Proyektor, CD Pembelajaran, Buku Elektronik (BSE), kaset pembelajaran, dan tape recorder. Penerapan E-Learning di kelas sudah berjalan sebagaimana mestinya. Narasumber memanfaatkan segala fasilitas E-Learning dalam setiap proses pembelajaran.  
12.    Apakah dilibatkan langsung pada penyusunan kurikulum? Seperti apa bentuk keterlibatannya?
Pada penyusunan kurikulum narasumber tidak dilibatkan secara langsung. Keterlibatan narasumber hanya sebatas menyusun indikator yang akan menjadi acuan dalam menyusun tujuan pembelajaran.

Berikut ini dokumentasi kegiatan wawancara dengan narasumber.
 











 Gambar 1. Kegiatan Wawancara

C.      REFLEKSI HASIL WAWANCARA
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, terdapat berbagai refleksi mengenai pernyataan narasumber diatas. Pada dasarnya terdapat berbagai macam teori-teori belajar yang bertujuan memudahkan siswa dalam memahami suatu materi yang dipelajarinya. Salah satu teori yang populer saat ini dan juga diterapkan oleh narasumber adalah teori kontruktivisme. Teori konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang menekankan bahwa para siswa sebagai pebelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktif membangun pengetahuan secara individual (Student Center).  Hal senada juga disampaikan oleh Piaget yang mengemukakakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan keuntungan penerapan teori belajar kontruktivisme tersebut, narasumber selayaknya tetap mempertahankan penggunaan teori belajar ini, dan memahami prinsip-prinsip teori ini secara lebih kompleks.
Selain penerapan teori belajar yang dirasa cocok untuk siswa, guru harus mampu merencanakan proses pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswanya. Sehingga nantinya saat penerapannya guru sudah mempunyai suatu kesiapan tentang apa saja hal-hal yang akan dilakukan oleh anak didiknya dalam proses pembelajaran (Pengelolaan Kelas). Pada dasarnya pengelolaan kelas yang dilakukan oleh narasumber sudah cukup baik dan efektif. Dalam pengelolaan kelas narasumber menggunakan strategi dan metode belajar yang bervariasi yang disesuaikan dengan kesusaian meteri serta karakteristik siswa. Dengan penerapan strategi dan metode yang bervariasi, pengelolan kelas akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun bukan hanya strategi dan metode saja yang perlu disiapkan dalam upaya pengelolaan kelas yang optimal melainkan penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar yang kondusif.
Salah satu tujuan dari kegiatan pengelolan kelas adalah untuk meminimalisir terjadinya kegiatan penyelewengan perhatian dalam proses pembelajaran, selain itu tujuan pengelolaan kelas adalah untuk mencegah terjadinya sikap yang kurang baik dalam proses pembelajaran, berdasarkan hal tersebut maka disarankan kepada narasumber agar melaksanakan kegiatan pengelolaan kelas dengan seksama dan memperhatikan komponen-komponen tujuan pengeloloan kelas. Sehingga dampak positif dari pengelolaan kelas dapat terlihat yakni pembelajaran berlangsung secara kondusif dan penggelolaan emosional peserta didik dapat terlaksana dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pengelolaan kelas yang baik tercermin dari pemanfaatan media pembelajaran yang efektif dalam upaya memudahkan guru melakukan transfer pengetahuan kepada siswanya. Narasumber sudah memanfaatkan hal tersebut, dengan menggunakan piranti E-Learning dalam proses pembelajaran. Contoh penerapan E-Learning adalah dengan menggunakan media LCD proyektor dikombinasikan dengan CD pembelajaran. Selain itu guru juga memanfaatkan media kaset pembelajaran dikombinasikan dengan tape recorder. Dengan memanfaatkan piranti E-Learning pembelajaran yang dilakukan akan lebih inovatif sehingga membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Indikator berhasilnya suatu proses pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran, untuk mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran, dilakukan proses evaluasi untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam proses pembelajaran. Ketuntasan yang dimaksudkan disini adalah tercapainya kompetensi yang meliputi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Fungsi dari ketuntasan belajar adalah memastikan semua peserta didik menguasai kompetensi yang diharapkan dalam suatu materi ajar sebelum pindah kemateri ajar selanjutnya. Pada umumnya setiap sekolah membuat kriteria ketuntasan minimum (KKM) sebagai acuan dalam menentukan ketuntasan belajar anak didiknya. Hal ini sudah diterapkan oleh narasumber dalam kegiatan pembelajaran. Indikator keberhasilan tidak hanya dilihat dari tercapainya KKM yang telah ditetapkan, melainkan dapat dilihat dari proses pembelajaran yang dilalui siswa. Dalam proses pembelajaran tentunya terdapat suatu kegiatan pengembangan pemahaman materi ajar yang dilalui oleh siswa tesebut. Siswa yang awalnya tidak mengetahui menjadi tahu akan pengetahuan tersebut. Dalam proses pembelajaran akan terlihat perbedaan antar siswa yang sudah memahami materi ajar yang diajar dengan siswa yang belum memahami materi ajar yang diajarkan oleh guru. Tetapi penilaian proses mempunyai beberapa kelemahan bagi siswa yang memiliki sifat pemalu, sehingga dalam mengemukakan pendapat atau pemecahan masalah yang dibebankan dirinya akan tidak terjawab karena ketidak percayaan diri siswa tersebut. Penilaian proses ini lebih cenderung cocok bagi siswa aktif dalam setiap proses pembelajaran. Sedangkan apabila guru hanya melakukan tes tulis dalam mengetahui kemampuan siswanya dalam menyerap materi, memungkinkan banyak terjadinya suatu kecurangan dalam pelaksanaanya (Siswa mencontek, membuka buku, dll) sehingga hasil kerja siswa bukan hasil kerja sendiri melainkan dipengaruhi oleh faktor luar (Eksternal). Sebaiknya kedua kegiatan ini dikombinasikan agar memperoleh hasil yang seobjektif mungkin untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami pengetahuan yang diajarkan.
            Dalam melakukan setiap perencanaan pembelajaran peran kurikulum sangat penting, karena kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada siswa dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurut narasumber kurikulum yang diterapkan sekarang (KTSP) kurang efektif dalam hal administrasi perencanaan pembelajaran. Namun pada dasarnya tiap pergantian kurikulum, memiliki tujuan untuk menambal kekurangan dari kurikulum sebelumnya, menuju kurikulum yang lebih baik lagi. Kurikulum saat ini (KTSP) sudah memiliki beberapa kelebihan dari kurikulum sebelumnya.

D.      SIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh narasumber sudah sesuai dengan paradigma pendidikan. Guru sudah membuat administrasi komponen perencanaan pembelajaran yang sudah ditentukan. Selain itu dalam proses pembelajaran guru sudah mampu mengelola kelas dengan baik sehingga terindikasi bahwa tujuan pembelajaran yang diharapkan guru tercapai. Penggunaan piranti E-Learning dalam proses pembelajaran juga membantu guru dalam upaya memudahkan proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Dengan menggunakan piranti E-learning proses pembelajaran lebih menyenangkan dan siswa termotivasi untuk belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pengorganisasian strategi dalam proses pembelajaran juga dapat membantu berhasilnya proses pembelajaran. Indikator berhasilnya proses pembelajaran tercermin dari tercapainya kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang disepakati oleh sekolah. Penilaian yang dilakukan oleh guru lebih dominan pada penilaian proses karena menurut guru penilaian proses lebih objektif daripada penilaian hasil akhir. Jadi secara garis besar narasumber sudah memenuhi standar proses dan standar isi penyelenggaraan pendidikan.