A.
BIODATA
GURU
Nama :
Ni Wayan Milih, S.Pd., SD.
NIP :
195509291983042002
Jabatan :
Pembina IV/a
Pendidikan Tinggi :
S1
Tempa Tanggal Lahir :
Kaliakah, 29 September 1955
Umur :
60 tahun
Alamat :
Desa Kaliakah, Negara
Riwayat Pendidikan
|
No.
|
Jenjang Pendidikan
|
Tempat
|
Tahun Tamat
|
|
1.
|
SD Negeri 1 Kaliakah
|
Negara
|
1969
|
|
2.
|
SMP Negeri 1 Negara
|
Negara
|
1971
|
|
3.
|
Sekolah Kesejahtraan Keluarga (SKKA)
Negeri
|
-
|
1974
|
|
4.
|
Kursus Pendidikan Guru (KPG)
|
-
|
1982
|
|
4.
|
Universitas Terbuka Denpasar
|
Denpasar
|
2000
|
|
5.
|
Universitas Terbuka Denpasar
|
Denpasar
|
2010
|
Riwayat Pekerjaan
|
No.
|
Tempat
|
Masa kerja (Tahun)
|
|
1.
|
SD Negeri 3 Tegal Badeng Barat
|
1983 – 1986
|
|
2.
|
SD Negeri 4 Banyubiru
|
1986 – 1990
|
|
3.
|
SD Negeri 4 Kaliakah
|
1990 – 2000
|
|
4.
|
SD Negeri 1 Kaliakah
|
2000 – Sekarang
|
B.
HASIL
WAWANCARA
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan guru kelas
VI SDN 1 Kaliakah.
1.
Apakah mengetahui teori-teori belajar?
Teori apa saja yang diketahui? Bagaimana penerapan teori-teori tersebut dalam
proses pembelajaran?
Berdasarkan
hasil wawancara, narasumber mengetahui tentang teori-teori belajar. Teori-teori
belajar yang dimaksudkan oleh guru adalah pedoman dalam melakukan pembelajaran
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Teori belajar yang diketahui oleh
narasumber yaitu teori belajar kontruktivisme. Pada dasarnya teori ini
bertujuan membangun pengatuhuan siswa. Siswa diwajibkan aktif dalam proses
pembelajaran, sehingga peran siswa lebih dominan dari peran guru (Student Center). Peran guru pada
penerapan teori ini hanya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan
fasilitas kepada siswa untuk memahami pengetahuan dalam proses pembelajaran.
Selain itu guru juga dituntut sebagai motivator, yang bertugas memotivasi siswa
untuk bersemangat dalam proses pembelajaran.
2.
Bagaimana paradigma pendidikan
seharusnya? Apakah perlu paradigma baru? Yang seperti apa?
Paradigma
pendidikan khsusnya pada kurikulum menuai kritikan dari narasumber. Menurutnya
kurikulum yang digunakan saat ini (KTSP) mempunyai banyak kekurangan. Kegiatan
administrasi perencanaan pembelajaran sangat menguras perhatian guru, sehinnga
terindikasi proses pembelajaran akan terbengkalai. Karena sebelum melakukan proses
pembelajaran diwajibkan membuat RPP dan Silabus yang sistematikanya lebih
kompleks dari kurikulum sebelumnya. Dalam penyusunan RPP ini guru dituntut
untuk memahami karakteristik siswanya dalam merancang RPP agar tujuan
pembelajaran tercapai. Memahami karekteristik siswa yang dianggap guru susah,
sehingga model pembelajaran yang diterapkan pun sulit ditentukan. Seharusnya menurut
narasumber diperlukan kurikulum yang lebih memudahkan guru dalam perancangan rencana
pelaksanaan pembelajaran, sehingga guru lebih fokus dalam proses pembelajran.
3.
Bagaimana menilai pembelajaran sebagai
sebuah proses?
Menurut
narasumber, penilaian yang dilakukan dalam proses pembelajaran menekankan
kepada penilaian proses. Hal ini diterapkan karena guru kurang percaya terhadap
tes akhir yang dilakukan serentak kepada siswa. Penilaian dengan tes akhir
terindikasi banyak siswa yang melakukan kecungan. Dalam penilaian proses keaktifan
siswa berperan dalam penilaian ini. Dengan tanya jawab disela-sela proses pembelajaran
tentunya kemampuan siswa yang sebenarnya akan terlihat, mana siswa yang
memahami pelajaran dan mana siswa yang belum memahami pelajaran akan terlihat.
Penilaian proses ini dibantu dengan buku catatan yang dimiliki guru untuk
mencatat keaktifan siswa dan perkembangan siswa.
4.
Bagaimana strategi pengorganisasian
pembelajaran yang biasa dilakukan?
Menurut
narasumber strategi yang digunakan dalam pembelajaran cenderung menggunakan
strategi ceramah, namun pada penerapannya didukung oleh beberapa macam metode
diantaranya metode diskusi, penugasan, tanya jawab, dan metode-metode lainnya
sesuai dengan mata pelajaran serta karekteristik siswanya. Hal ini dilakukan
untuk mempermudah siswa menerima pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai.
5.
Bagaimana cara mengenal dan mengatasi
masalah belajar?
Menurut
narasumber cara mengenal masalah belajar siswa dilakukan dengan berbagai cara,
pada umumnya guru melihat masalah yang dialami siswa dengan tes evaluasi
apabila tes evaluasi yang dikerjakan oleh siswa cenderung kurang maka guru
mencari tau apa yang menjadi permasalahan siswa tersebut dengan cara mengamati
keadaan siswa sehari-hari. Kemudian dilakukan upaya pendekatan kepada siswa
untuk mengetahui permasalahan yang dialaminya. Sehingga guru mengetahui cara
menanggulangi permasalahan yang dialami siswa dan permasalahan siswa akan cepat
terselesaikan. Selain itu masalah belajar siswa juga dapat dilihat dari proses
belajar siswa. Dari proses belajar guru bisa mengetahui cara belajar
masing-masing siswa. Guru dapat mengetahui masalah siswa dari cara belajar
siswa tersebut.
6.
Bagaimana proses evaluasi yang
dilakukan? Apakah ada pertimbangan lain selain kemampuan akademik siswa?
Menurut
pernyataan narasumber proses evaluasi yang dilakukan mengarah kepada 3 komponen
hasil belajar, yakni mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Pada
komponen penilaian kognitif guru melakukan proses penilaian dengan cara
melakukan tes evaluasi, sedangkan pada ranah afektif dan psikomotor guru
menerapkan system pengamatan dan pencatatatn pada lembar observasi. Dalam
mempertimbangkan kenaikan kelas siswa, guru tidak hanya berpatokan pada
kemampuan kognitif siswa saja melainkan guru mempertimbangkan pada aspek sikap
siswa sehari-hari (tingkah laku), dan kehadiran siswa pada proses pembelajaran.
Pada intinya penilaian tidak hanya tergantung pada kemampuan akademik siswa
saja melainkan mencakup nilai sikap dan kehadiran siswa dalam proses
pembelajaran.
7.
Bagaimana cara memancing apersepsi anak?
Apakah menggunakan metode yang bervariasi? Berikan contohnya!
Menurut
pernyataan narasumber dalam proses apersepsi guru hanya melakukan proses tanya
jawab untuk mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang akan dibahas.
Contohnya,
Materi yang akan dibahas pada pertemuan
sekarang adalah mengenai simetri lipat pada bangun datar. Guru mengaitkan
materi dengan materi yang telah dibahas sebelumnya, yaitu menanyakan “kalian
masih ingat tentang materi bangun datar minggu lalu?”, “bangun datar apa saja
yang sudah kita pelajari?” dan pertanyaan-pertanyaan terkait lainnya.
8.
Bagaimana cara mengelola kelas agar
efektif? Bagaimana mengatasi masalah yang biasanya timbul dalam pengelolaan
kelas?
Menurut
pertanyaan narasumber cara mengelola kelas agar efektif adalah dengan cara
menerapkan metode-metode pembelajaran yang bervariasi tergantung pada materi
bahasan serta mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan siswa.
Cara
mengatasi masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas menurut pernyataan narasumber
adalah dengan melihat terlebih dahulu masalah apa yang dialami siswa, masalah
di bagi menjadi 2 antara lain, masalah pembelajaran dan sikap siswa dikelas.
Saat siswa mengalami masalah dalam pembelajaran, narasumber melakukan beberapa
langkah antara lain:
a.
Pengajaran individu kepada siswa yang
bersangkutan tentang materi yang belum dipahami
b.
Melakukan penggulangan penjelasan materi
apabila sebagian besar siswa tidak memahami materi.
Saat siswa mengalami
masalah sikap yang kurang baik saat proses pembelajaran narasumber melakukan
beberapa langkah antara lain:
a.
Melakukan pendekatan secara individu
kepada siswa yang bermasalah mengenai sikap yang kurang baik pada proses
pembelajaran.
b.
Mencari solusi atau alternatif pemecahan
masalah yang dialami oleh siswa tersebut.
9.
Bagaimana mengelola kondisi emosional
siswa? Apakah digunakan pada proses penilaian?
Menurut
narasumber cara mengelola kondisi emosional siswa dengan cara mengemas
pembelajaran yang dapat diterima oleh semua siswa, sehingga nantinya fokus
siswa terhadap proses pembelajaran dapat terjaga. Dalam proses penilaian yang
dilakukan oleh narasumber mengamati sikap (Emosional) siswa dilakukan dalam
proses pembelajaran dan dilakukan pencatatan dengan lembar observasi (Penilaian
Afektif).
10. Apa
indikator keberhasilan pembelajaran di kelas? Apakah ada pengaruh subjetivitas?
Menurut
penjelasan dari narasumber indikator keberhasilan pembelajaran siswa di kelas
ditinjau dari keberhasilan siswa dalam memperoleh nilai yang sesuai dengan
kriteria ketuntasan minimun (KKM). Dalam melakukan proses penilaian narasumber
tidak melakukan secara subjektif melainkan secara objektif. Subjektif yang
dimaksudkan disini adalah pengaruh dari latar belakang keluarga, kemampuan
meteriaiil siswa, dll.
11. Apakah
sudah terdapat piranti E-Learning? Bagaimana aplikasinya di sekolah?
Menurut
pernyataan narasumber piranti, E-Learning sudah terdapat disekolah. Piranti
tersebut mencakup LCD Proyektor, CD Pembelajaran, Buku Elektronik (BSE), kaset
pembelajaran, dan tape recorder. Penerapan E-Learning di kelas sudah berjalan
sebagaimana mestinya. Narasumber memanfaatkan segala fasilitas E-Learning dalam
setiap proses pembelajaran.
12. Apakah
dilibatkan langsung pada penyusunan kurikulum? Seperti apa bentuk
keterlibatannya?
Pada
penyusunan kurikulum narasumber tidak dilibatkan secara langsung. Keterlibatan
narasumber hanya sebatas menyusun indikator yang akan menjadi acuan dalam
menyusun tujuan pembelajaran.
Berikut
ini dokumentasi kegiatan wawancara dengan narasumber.
Gambar 1. Kegiatan Wawancara
C.
REFLEKSI
HASIL WAWANCARA
Berdasarkan
hasil wawancara yang dilakukan, terdapat berbagai refleksi mengenai pernyataan
narasumber diatas. Pada dasarnya terdapat berbagai macam teori-teori belajar yang
bertujuan memudahkan siswa dalam memahami suatu materi yang dipelajarinya.
Salah satu teori yang populer saat ini dan juga diterapkan oleh narasumber
adalah teori kontruktivisme. Teori konstruktivisme
adalah suatu teori belajar yang menekankan bahwa para siswa sebagai pebelajar
tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka
secara aktif membangun pengetahuan secara individual (Student Center). Hal senada juga disampaikan oleh Piaget yang
mengemukakakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun
penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan
kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan keuntungan penerapan teori
belajar kontruktivisme tersebut, narasumber
selayaknya tetap mempertahankan penggunaan teori belajar ini, dan memahami
prinsip-prinsip teori ini secara lebih kompleks.
Selain penerapan teori belajar yang dirasa cocok untuk siswa, guru
harus mampu merencanakan proses pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswanya.
Sehingga nantinya saat penerapannya guru sudah mempunyai suatu kesiapan tentang
apa saja hal-hal yang akan dilakukan oleh anak didiknya dalam proses
pembelajaran (Pengelolaan Kelas). Pada dasarnya pengelolaan kelas yang
dilakukan oleh narasumber sudah cukup baik dan efektif. Dalam pengelolaan kelas
narasumber menggunakan strategi dan metode belajar yang bervariasi yang
disesuaikan dengan kesusaian meteri serta karakteristik siswa. Dengan penerapan
strategi dan metode yang bervariasi, pengelolan kelas akan berjalan sebagaimana
mestinya. Namun bukan hanya strategi dan metode saja yang perlu disiapkan dalam
upaya pengelolaan kelas yang optimal melainkan penyiapan bahan
belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan
situasi atau kondisi proses belajar mengajar yang kondusif.
Salah
satu tujuan dari kegiatan pengelolan kelas adalah untuk meminimalisir
terjadinya kegiatan penyelewengan perhatian dalam proses pembelajaran, selain
itu tujuan pengelolaan kelas adalah untuk mencegah terjadinya sikap yang kurang
baik dalam proses pembelajaran, berdasarkan hal tersebut maka disarankan kepada
narasumber agar melaksanakan kegiatan pengelolaan kelas dengan seksama dan
memperhatikan komponen-komponen tujuan pengeloloan kelas. Sehingga dampak
positif dari pengelolaan kelas dapat terlihat yakni pembelajaran berlangsung
secara kondusif dan penggelolaan emosional peserta didik dapat terlaksana
dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pengelolaan
kelas yang baik tercermin dari pemanfaatan media pembelajaran yang efektif
dalam upaya memudahkan guru melakukan transfer pengetahuan kepada siswanya.
Narasumber sudah memanfaatkan hal tersebut, dengan menggunakan piranti E-Learning
dalam proses pembelajaran. Contoh penerapan E-Learning adalah dengan
menggunakan media LCD proyektor dikombinasikan dengan CD pembelajaran. Selain
itu guru juga memanfaatkan media kaset pembelajaran dikombinasikan dengan tape
recorder. Dengan memanfaatkan piranti E-Learning pembelajaran yang dilakukan
akan lebih inovatif sehingga membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Indikator berhasilnya suatu proses
pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran, untuk mengetahui
tercapainya tujuan pembelajaran, dilakukan proses evaluasi untuk mengetahui ketuntasan
siswa dalam proses pembelajaran. Ketuntasan yang dimaksudkan disini adalah tercapainya kompetensi yang meliputi pengetahuan,
keterampilan, maupun sikap. Fungsi dari
ketuntasan belajar adalah memastikan semua peserta didik menguasai kompetensi
yang diharapkan dalam suatu materi ajar sebelum pindah kemateri ajar
selanjutnya. Pada umumnya setiap sekolah membuat kriteria ketuntasan minimum
(KKM) sebagai acuan dalam menentukan ketuntasan belajar anak didiknya. Hal ini
sudah diterapkan oleh narasumber dalam kegiatan pembelajaran. Indikator
keberhasilan tidak hanya dilihat dari tercapainya KKM yang telah ditetapkan,
melainkan dapat dilihat dari proses pembelajaran yang dilalui siswa. Dalam
proses pembelajaran tentunya terdapat suatu kegiatan pengembangan pemahaman
materi ajar yang dilalui oleh siswa tesebut. Siswa yang awalnya tidak
mengetahui menjadi tahu akan pengetahuan tersebut. Dalam proses pembelajaran
akan terlihat perbedaan antar siswa yang sudah memahami materi ajar yang diajar
dengan siswa yang belum memahami materi ajar yang diajarkan oleh guru. Tetapi penilaian
proses mempunyai beberapa kelemahan bagi siswa yang memiliki sifat pemalu,
sehingga dalam mengemukakan pendapat atau pemecahan masalah yang dibebankan
dirinya akan tidak terjawab karena ketidak percayaan diri siswa tersebut. Penilaian
proses ini lebih cenderung cocok bagi siswa aktif dalam setiap proses
pembelajaran. Sedangkan apabila guru hanya melakukan tes tulis dalam mengetahui
kemampuan siswanya dalam menyerap materi, memungkinkan banyak terjadinya suatu
kecurangan dalam pelaksanaanya (Siswa mencontek, membuka buku, dll) sehingga
hasil kerja siswa bukan hasil kerja sendiri melainkan dipengaruhi oleh faktor
luar (Eksternal). Sebaiknya kedua kegiatan ini dikombinasikan agar memperoleh hasil
yang seobjektif mungkin untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami pengetahuan
yang diajarkan.
Dalam melakukan setiap perencanaan pembelajaran peran
kurikulum sangat penting, karena kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran dan program
pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang
berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada siswa dalam satu periode
jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan
keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan
pendidikan. Menurut narasumber kurikulum yang diterapkan sekarang (KTSP) kurang
efektif dalam hal administrasi perencanaan pembelajaran. Namun pada dasarnya
tiap pergantian kurikulum, memiliki tujuan untuk menambal kekurangan dari
kurikulum sebelumnya, menuju kurikulum yang lebih baik lagi. Kurikulum saat ini
(KTSP) sudah memiliki beberapa kelebihan dari kurikulum sebelumnya.
D. SIMPULAN
Berdasarkan
pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh
narasumber sudah sesuai dengan paradigma pendidikan. Guru sudah membuat
administrasi komponen perencanaan pembelajaran yang sudah ditentukan. Selain
itu dalam proses pembelajaran guru sudah mampu mengelola kelas dengan baik
sehingga terindikasi bahwa tujuan pembelajaran yang diharapkan guru tercapai.
Penggunaan piranti E-Learning dalam proses pembelajaran juga membantu guru
dalam upaya memudahkan proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Dengan
menggunakan piranti E-learning proses pembelajaran lebih menyenangkan dan siswa
termotivasi untuk belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pengorganisasian
strategi dalam proses pembelajaran juga dapat membantu berhasilnya proses
pembelajaran. Indikator berhasilnya proses pembelajaran tercermin dari tercapainya
kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang disepakati oleh sekolah. Penilaian yang
dilakukan oleh guru lebih dominan pada penilaian proses karena menurut guru
penilaian proses lebih objektif daripada penilaian hasil akhir. Jadi secara
garis besar narasumber sudah memenuhi standar proses dan standar isi
penyelenggaraan pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar