Kamis, 04 Juli 2013

WAWANCARA

A.      BIODATA GURU
Nama                           : Ni Wayan Milih, S.Pd., SD.
NIP                             : 195509291983042002
Jabatan                                    : Pembina IV/a
Pendidikan Tinggi       : S1
Tempa Tanggal Lahir   : Kaliakah, 29 September 1955
Umur                           : 60 tahun
Alamat                                    : Desa Kaliakah, Negara
Riwayat Pendidikan
No.
Jenjang Pendidikan
Tempat
Tahun Tamat
1.
SD Negeri 1 Kaliakah
Negara
1969
2.
SMP Negeri 1 Negara
Negara
1971
3.
Sekolah Kesejahtraan Keluarga (SKKA) Negeri
-
1974
4.
Kursus Pendidikan Guru (KPG)
-
1982
4.
Universitas Terbuka Denpasar
Denpasar
2000
5.
Universitas Terbuka Denpasar
Denpasar
2010

Riwayat Pekerjaan
No.
Tempat
Masa kerja (Tahun)
1.
SD Negeri 3 Tegal Badeng Barat
1983 – 1986
2.
SD Negeri 4 Banyubiru
1986 – 1990
3.
SD Negeri 4 Kaliakah
1990 – 2000
4.
SD Negeri 1 Kaliakah
2000 – Sekarang


B.       HASIL WAWANCARA
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan guru kelas VI SDN 1 Kaliakah.
1.        Apakah mengetahui teori-teori belajar? Teori apa saja yang diketahui? Bagaimana penerapan teori-teori tersebut dalam proses pembelajaran?
Berdasarkan hasil wawancara, narasumber mengetahui tentang teori-teori belajar. Teori-teori belajar yang dimaksudkan oleh guru adalah pedoman dalam melakukan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Teori belajar yang diketahui oleh narasumber yaitu teori belajar kontruktivisme. Pada dasarnya teori ini bertujuan membangun pengatuhuan siswa. Siswa diwajibkan aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peran siswa lebih dominan dari peran guru (Student Center). Peran guru pada penerapan teori ini hanya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan fasilitas kepada siswa untuk memahami pengetahuan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dituntut sebagai motivator, yang bertugas memotivasi siswa untuk bersemangat dalam proses pembelajaran.
2.        Bagaimana paradigma pendidikan seharusnya? Apakah perlu paradigma baru? Yang seperti apa?
Paradigma pendidikan khsusnya pada kurikulum menuai kritikan dari narasumber. Menurutnya kurikulum yang digunakan saat ini (KTSP) mempunyai banyak kekurangan. Kegiatan administrasi perencanaan pembelajaran sangat menguras perhatian guru, sehinnga terindikasi proses pembelajaran akan terbengkalai. Karena sebelum melakukan proses pembelajaran diwajibkan membuat RPP dan Silabus yang sistematikanya lebih kompleks dari kurikulum sebelumnya. Dalam penyusunan RPP ini guru dituntut untuk memahami karakteristik siswanya dalam merancang RPP agar tujuan pembelajaran tercapai. Memahami karekteristik siswa yang dianggap guru susah, sehingga model pembelajaran yang diterapkan pun sulit ditentukan. Seharusnya menurut narasumber diperlukan kurikulum yang lebih memudahkan guru dalam perancangan rencana pelaksanaan pembelajaran, sehingga guru lebih fokus dalam proses pembelajran.
3.        Bagaimana menilai pembelajaran sebagai sebuah proses?
Menurut narasumber, penilaian yang dilakukan dalam proses pembelajaran menekankan kepada penilaian proses. Hal ini diterapkan karena guru kurang percaya terhadap tes akhir yang dilakukan serentak kepada siswa. Penilaian dengan tes akhir terindikasi banyak siswa yang melakukan kecungan. Dalam penilaian proses keaktifan siswa berperan dalam penilaian ini. Dengan tanya jawab disela-sela proses pembelajaran tentunya kemampuan siswa yang sebenarnya akan terlihat, mana siswa yang memahami pelajaran dan mana siswa yang belum memahami pelajaran akan terlihat. Penilaian proses ini dibantu dengan buku catatan yang dimiliki guru untuk mencatat keaktifan siswa dan perkembangan siswa.
4.        Bagaimana strategi pengorganisasian pembelajaran yang biasa dilakukan?
Menurut narasumber strategi yang digunakan dalam pembelajaran cenderung menggunakan strategi ceramah, namun pada penerapannya didukung oleh beberapa macam metode diantaranya metode diskusi, penugasan, tanya jawab, dan metode-metode lainnya sesuai dengan mata pelajaran serta karekteristik siswanya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah siswa menerima pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
5.        Bagaimana cara mengenal dan mengatasi masalah belajar?
Menurut narasumber cara mengenal masalah belajar siswa dilakukan dengan berbagai cara, pada umumnya guru melihat masalah yang dialami siswa dengan tes evaluasi apabila tes evaluasi yang dikerjakan oleh siswa cenderung kurang maka guru mencari tau apa yang menjadi permasalahan siswa tersebut dengan cara mengamati keadaan siswa sehari-hari. Kemudian dilakukan upaya pendekatan kepada siswa untuk mengetahui permasalahan yang dialaminya. Sehingga guru mengetahui cara menanggulangi permasalahan yang dialami siswa dan permasalahan siswa akan cepat terselesaikan. Selain itu masalah belajar siswa juga dapat dilihat dari proses belajar siswa. Dari proses belajar guru bisa mengetahui cara belajar masing-masing siswa. Guru dapat mengetahui masalah siswa dari cara belajar siswa tersebut.         
6.        Bagaimana proses evaluasi yang dilakukan? Apakah ada pertimbangan lain selain kemampuan akademik siswa?
Menurut pernyataan narasumber proses evaluasi yang dilakukan mengarah kepada 3 komponen hasil belajar, yakni mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Pada komponen penilaian kognitif guru melakukan proses penilaian dengan cara melakukan tes evaluasi, sedangkan pada ranah afektif dan psikomotor guru menerapkan system pengamatan dan pencatatatn pada lembar observasi. Dalam mempertimbangkan kenaikan kelas siswa, guru tidak hanya berpatokan pada kemampuan kognitif siswa saja melainkan guru mempertimbangkan pada aspek sikap siswa sehari-hari (tingkah laku), dan kehadiran siswa pada proses pembelajaran. Pada intinya penilaian tidak hanya tergantung pada kemampuan akademik siswa saja melainkan mencakup nilai sikap dan kehadiran siswa dalam proses pembelajaran.
7.        Bagaimana cara memancing apersepsi anak? Apakah menggunakan metode yang bervariasi? Berikan contohnya!
Menurut pernyataan narasumber dalam proses apersepsi guru hanya melakukan proses tanya jawab untuk mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang akan dibahas.
Contohnya,
Materi yang akan dibahas pada pertemuan sekarang adalah mengenai simetri lipat pada bangun datar. Guru mengaitkan materi dengan materi yang telah dibahas sebelumnya, yaitu menanyakan “kalian masih ingat tentang materi bangun datar minggu lalu?”, “bangun datar apa saja yang sudah kita pelajari?” dan pertanyaan-pertanyaan terkait lainnya.
8.        Bagaimana cara mengelola kelas agar efektif? Bagaimana mengatasi masalah yang biasanya timbul dalam pengelolaan kelas?
Menurut pertanyaan narasumber cara mengelola kelas agar efektif adalah dengan cara menerapkan metode-metode pembelajaran yang bervariasi tergantung pada materi bahasan serta mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan siswa.
Cara mengatasi masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas menurut pernyataan narasumber adalah dengan melihat terlebih dahulu masalah apa yang dialami siswa, masalah di bagi menjadi 2 antara lain, masalah pembelajaran dan sikap siswa dikelas. Saat siswa mengalami masalah dalam pembelajaran, narasumber melakukan beberapa langkah antara lain:
a.         Pengajaran individu kepada siswa yang bersangkutan tentang materi yang belum dipahami
b.         Melakukan penggulangan penjelasan materi apabila sebagian besar siswa tidak memahami materi.
Saat siswa mengalami masalah sikap yang kurang baik saat proses pembelajaran narasumber melakukan beberapa langkah antara lain:
a.         Melakukan pendekatan secara individu kepada siswa yang bermasalah mengenai sikap yang kurang baik pada proses pembelajaran.
b.         Mencari solusi atau alternatif pemecahan masalah yang dialami oleh siswa tersebut.
9.        Bagaimana mengelola kondisi emosional siswa? Apakah digunakan pada proses penilaian?
Menurut narasumber cara mengelola kondisi emosional siswa dengan cara mengemas pembelajaran yang dapat diterima oleh semua siswa, sehingga nantinya fokus siswa terhadap proses pembelajaran dapat terjaga. Dalam proses penilaian yang dilakukan oleh narasumber mengamati sikap (Emosional) siswa dilakukan dalam proses pembelajaran dan dilakukan pencatatan dengan lembar observasi (Penilaian Afektif).
10.    Apa indikator keberhasilan pembelajaran di kelas? Apakah ada pengaruh subjetivitas?
Menurut penjelasan dari narasumber indikator keberhasilan pembelajaran siswa di kelas ditinjau dari keberhasilan siswa dalam memperoleh nilai yang sesuai dengan kriteria ketuntasan minimun (KKM). Dalam melakukan proses penilaian narasumber tidak melakukan secara subjektif melainkan secara objektif. Subjektif yang dimaksudkan disini adalah pengaruh dari latar belakang keluarga, kemampuan meteriaiil siswa, dll.  
11.    Apakah sudah terdapat piranti E-Learning? Bagaimana aplikasinya di sekolah?
Menurut pernyataan narasumber piranti, E-Learning sudah terdapat disekolah. Piranti tersebut mencakup LCD Proyektor, CD Pembelajaran, Buku Elektronik (BSE), kaset pembelajaran, dan tape recorder. Penerapan E-Learning di kelas sudah berjalan sebagaimana mestinya. Narasumber memanfaatkan segala fasilitas E-Learning dalam setiap proses pembelajaran.  
12.    Apakah dilibatkan langsung pada penyusunan kurikulum? Seperti apa bentuk keterlibatannya?
Pada penyusunan kurikulum narasumber tidak dilibatkan secara langsung. Keterlibatan narasumber hanya sebatas menyusun indikator yang akan menjadi acuan dalam menyusun tujuan pembelajaran.

Berikut ini dokumentasi kegiatan wawancara dengan narasumber.
 











 Gambar 1. Kegiatan Wawancara

C.      REFLEKSI HASIL WAWANCARA
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, terdapat berbagai refleksi mengenai pernyataan narasumber diatas. Pada dasarnya terdapat berbagai macam teori-teori belajar yang bertujuan memudahkan siswa dalam memahami suatu materi yang dipelajarinya. Salah satu teori yang populer saat ini dan juga diterapkan oleh narasumber adalah teori kontruktivisme. Teori konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang menekankan bahwa para siswa sebagai pebelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktif membangun pengetahuan secara individual (Student Center).  Hal senada juga disampaikan oleh Piaget yang mengemukakakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan keuntungan penerapan teori belajar kontruktivisme tersebut, narasumber selayaknya tetap mempertahankan penggunaan teori belajar ini, dan memahami prinsip-prinsip teori ini secara lebih kompleks.
Selain penerapan teori belajar yang dirasa cocok untuk siswa, guru harus mampu merencanakan proses pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswanya. Sehingga nantinya saat penerapannya guru sudah mempunyai suatu kesiapan tentang apa saja hal-hal yang akan dilakukan oleh anak didiknya dalam proses pembelajaran (Pengelolaan Kelas). Pada dasarnya pengelolaan kelas yang dilakukan oleh narasumber sudah cukup baik dan efektif. Dalam pengelolaan kelas narasumber menggunakan strategi dan metode belajar yang bervariasi yang disesuaikan dengan kesusaian meteri serta karakteristik siswa. Dengan penerapan strategi dan metode yang bervariasi, pengelolan kelas akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun bukan hanya strategi dan metode saja yang perlu disiapkan dalam upaya pengelolaan kelas yang optimal melainkan penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar yang kondusif.
Salah satu tujuan dari kegiatan pengelolan kelas adalah untuk meminimalisir terjadinya kegiatan penyelewengan perhatian dalam proses pembelajaran, selain itu tujuan pengelolaan kelas adalah untuk mencegah terjadinya sikap yang kurang baik dalam proses pembelajaran, berdasarkan hal tersebut maka disarankan kepada narasumber agar melaksanakan kegiatan pengelolaan kelas dengan seksama dan memperhatikan komponen-komponen tujuan pengeloloan kelas. Sehingga dampak positif dari pengelolaan kelas dapat terlihat yakni pembelajaran berlangsung secara kondusif dan penggelolaan emosional peserta didik dapat terlaksana dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pengelolaan kelas yang baik tercermin dari pemanfaatan media pembelajaran yang efektif dalam upaya memudahkan guru melakukan transfer pengetahuan kepada siswanya. Narasumber sudah memanfaatkan hal tersebut, dengan menggunakan piranti E-Learning dalam proses pembelajaran. Contoh penerapan E-Learning adalah dengan menggunakan media LCD proyektor dikombinasikan dengan CD pembelajaran. Selain itu guru juga memanfaatkan media kaset pembelajaran dikombinasikan dengan tape recorder. Dengan memanfaatkan piranti E-Learning pembelajaran yang dilakukan akan lebih inovatif sehingga membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Indikator berhasilnya suatu proses pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran, untuk mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran, dilakukan proses evaluasi untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam proses pembelajaran. Ketuntasan yang dimaksudkan disini adalah tercapainya kompetensi yang meliputi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Fungsi dari ketuntasan belajar adalah memastikan semua peserta didik menguasai kompetensi yang diharapkan dalam suatu materi ajar sebelum pindah kemateri ajar selanjutnya. Pada umumnya setiap sekolah membuat kriteria ketuntasan minimum (KKM) sebagai acuan dalam menentukan ketuntasan belajar anak didiknya. Hal ini sudah diterapkan oleh narasumber dalam kegiatan pembelajaran. Indikator keberhasilan tidak hanya dilihat dari tercapainya KKM yang telah ditetapkan, melainkan dapat dilihat dari proses pembelajaran yang dilalui siswa. Dalam proses pembelajaran tentunya terdapat suatu kegiatan pengembangan pemahaman materi ajar yang dilalui oleh siswa tesebut. Siswa yang awalnya tidak mengetahui menjadi tahu akan pengetahuan tersebut. Dalam proses pembelajaran akan terlihat perbedaan antar siswa yang sudah memahami materi ajar yang diajar dengan siswa yang belum memahami materi ajar yang diajarkan oleh guru. Tetapi penilaian proses mempunyai beberapa kelemahan bagi siswa yang memiliki sifat pemalu, sehingga dalam mengemukakan pendapat atau pemecahan masalah yang dibebankan dirinya akan tidak terjawab karena ketidak percayaan diri siswa tersebut. Penilaian proses ini lebih cenderung cocok bagi siswa aktif dalam setiap proses pembelajaran. Sedangkan apabila guru hanya melakukan tes tulis dalam mengetahui kemampuan siswanya dalam menyerap materi, memungkinkan banyak terjadinya suatu kecurangan dalam pelaksanaanya (Siswa mencontek, membuka buku, dll) sehingga hasil kerja siswa bukan hasil kerja sendiri melainkan dipengaruhi oleh faktor luar (Eksternal). Sebaiknya kedua kegiatan ini dikombinasikan agar memperoleh hasil yang seobjektif mungkin untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami pengetahuan yang diajarkan.
            Dalam melakukan setiap perencanaan pembelajaran peran kurikulum sangat penting, karena kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada siswa dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurut narasumber kurikulum yang diterapkan sekarang (KTSP) kurang efektif dalam hal administrasi perencanaan pembelajaran. Namun pada dasarnya tiap pergantian kurikulum, memiliki tujuan untuk menambal kekurangan dari kurikulum sebelumnya, menuju kurikulum yang lebih baik lagi. Kurikulum saat ini (KTSP) sudah memiliki beberapa kelebihan dari kurikulum sebelumnya.

D.      SIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh narasumber sudah sesuai dengan paradigma pendidikan. Guru sudah membuat administrasi komponen perencanaan pembelajaran yang sudah ditentukan. Selain itu dalam proses pembelajaran guru sudah mampu mengelola kelas dengan baik sehingga terindikasi bahwa tujuan pembelajaran yang diharapkan guru tercapai. Penggunaan piranti E-Learning dalam proses pembelajaran juga membantu guru dalam upaya memudahkan proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Dengan menggunakan piranti E-learning proses pembelajaran lebih menyenangkan dan siswa termotivasi untuk belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pengorganisasian strategi dalam proses pembelajaran juga dapat membantu berhasilnya proses pembelajaran. Indikator berhasilnya proses pembelajaran tercermin dari tercapainya kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang disepakati oleh sekolah. Penilaian yang dilakukan oleh guru lebih dominan pada penilaian proses karena menurut guru penilaian proses lebih objektif daripada penilaian hasil akhir. Jadi secara garis besar narasumber sudah memenuhi standar proses dan standar isi penyelenggaraan pendidikan.


WAWANCARA

A.      BIODATA GURU
Nama                           : Ni Wayan Milih, S.Pd., SD.
NIP                             : 195509291983042002
Jabatan                                    : Pembina IV/a
Pendidikan Tinggi       : S1
Tempa Tanggal Lahir   : Kaliakah, 29 September 1955
Umur                           : 60 tahun
Alamat                                    : Desa Kaliakah, Negara
Riwayat Pendidikan
No.
Jenjang Pendidikan
Tempat
Tahun Tamat
1.
SD Negeri 1 Kaliakah
Negara
1969
2.
SMP Negeri 1 Negara
Negara
1971
3.
Sekolah Kesejahtraan Keluarga (SKKA) Negeri
-
1974
4.
Kursus Pendidikan Guru (KPG)
-
1982
4.
Universitas Terbuka Denpasar
Denpasar
2000
5.
Universitas Terbuka Denpasar
Denpasar
2010

Riwayat Pekerjaan
No.
Tempat
Masa kerja (Tahun)
1.
SD Negeri 3 Tegal Badeng Barat
1983 – 1986
2.
SD Negeri 4 Banyubiru
1986 – 1990
3.
SD Negeri 4 Kaliakah
1990 – 2000
4.
SD Negeri 1 Kaliakah
2000 – Sekarang


B.       HASIL WAWANCARA
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan guru kelas VI SDN 1 Kaliakah.
1.        Apakah mengetahui teori-teori belajar? Teori apa saja yang diketahui? Bagaimana penerapan teori-teori tersebut dalam proses pembelajaran?
Berdasarkan hasil wawancara, narasumber mengetahui tentang teori-teori belajar. Teori-teori belajar yang dimaksudkan oleh guru adalah pedoman dalam melakukan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Teori belajar yang diketahui oleh narasumber yaitu teori belajar kontruktivisme. Pada dasarnya teori ini bertujuan membangun pengatuhuan siswa. Siswa diwajibkan aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peran siswa lebih dominan dari peran guru (Student Center). Peran guru pada penerapan teori ini hanya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan fasilitas kepada siswa untuk memahami pengetahuan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dituntut sebagai motivator, yang bertugas memotivasi siswa untuk bersemangat dalam proses pembelajaran.
2.        Bagaimana paradigma pendidikan seharusnya? Apakah perlu paradigma baru? Yang seperti apa?
Paradigma pendidikan khsusnya pada kurikulum menuai kritikan dari narasumber. Menurutnya kurikulum yang digunakan saat ini (KTSP) mempunyai banyak kekurangan. Kegiatan administrasi perencanaan pembelajaran sangat menguras perhatian guru, sehinnga terindikasi proses pembelajaran akan terbengkalai. Karena sebelum melakukan proses pembelajaran diwajibkan membuat RPP dan Silabus yang sistematikanya lebih kompleks dari kurikulum sebelumnya. Dalam penyusunan RPP ini guru dituntut untuk memahami karakteristik siswanya dalam merancang RPP agar tujuan pembelajaran tercapai. Memahami karekteristik siswa yang dianggap guru susah, sehingga model pembelajaran yang diterapkan pun sulit ditentukan. Seharusnya menurut narasumber diperlukan kurikulum yang lebih memudahkan guru dalam perancangan rencana pelaksanaan pembelajaran, sehingga guru lebih fokus dalam proses pembelajran.
3.        Bagaimana menilai pembelajaran sebagai sebuah proses?
Menurut narasumber, penilaian yang dilakukan dalam proses pembelajaran menekankan kepada penilaian proses. Hal ini diterapkan karena guru kurang percaya terhadap tes akhir yang dilakukan serentak kepada siswa. Penilaian dengan tes akhir terindikasi banyak siswa yang melakukan kecungan. Dalam penilaian proses keaktifan siswa berperan dalam penilaian ini. Dengan tanya jawab disela-sela proses pembelajaran tentunya kemampuan siswa yang sebenarnya akan terlihat, mana siswa yang memahami pelajaran dan mana siswa yang belum memahami pelajaran akan terlihat. Penilaian proses ini dibantu dengan buku catatan yang dimiliki guru untuk mencatat keaktifan siswa dan perkembangan siswa.
4.        Bagaimana strategi pengorganisasian pembelajaran yang biasa dilakukan?
Menurut narasumber strategi yang digunakan dalam pembelajaran cenderung menggunakan strategi ceramah, namun pada penerapannya didukung oleh beberapa macam metode diantaranya metode diskusi, penugasan, tanya jawab, dan metode-metode lainnya sesuai dengan mata pelajaran serta karekteristik siswanya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah siswa menerima pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
5.        Bagaimana cara mengenal dan mengatasi masalah belajar?
Menurut narasumber cara mengenal masalah belajar siswa dilakukan dengan berbagai cara, pada umumnya guru melihat masalah yang dialami siswa dengan tes evaluasi apabila tes evaluasi yang dikerjakan oleh siswa cenderung kurang maka guru mencari tau apa yang menjadi permasalahan siswa tersebut dengan cara mengamati keadaan siswa sehari-hari. Kemudian dilakukan upaya pendekatan kepada siswa untuk mengetahui permasalahan yang dialaminya. Sehingga guru mengetahui cara menanggulangi permasalahan yang dialami siswa dan permasalahan siswa akan cepat terselesaikan. Selain itu masalah belajar siswa juga dapat dilihat dari proses belajar siswa. Dari proses belajar guru bisa mengetahui cara belajar masing-masing siswa. Guru dapat mengetahui masalah siswa dari cara belajar siswa tersebut.         
6.        Bagaimana proses evaluasi yang dilakukan? Apakah ada pertimbangan lain selain kemampuan akademik siswa?
Menurut pernyataan narasumber proses evaluasi yang dilakukan mengarah kepada 3 komponen hasil belajar, yakni mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Pada komponen penilaian kognitif guru melakukan proses penilaian dengan cara melakukan tes evaluasi, sedangkan pada ranah afektif dan psikomotor guru menerapkan system pengamatan dan pencatatatn pada lembar observasi. Dalam mempertimbangkan kenaikan kelas siswa, guru tidak hanya berpatokan pada kemampuan kognitif siswa saja melainkan guru mempertimbangkan pada aspek sikap siswa sehari-hari (tingkah laku), dan kehadiran siswa pada proses pembelajaran. Pada intinya penilaian tidak hanya tergantung pada kemampuan akademik siswa saja melainkan mencakup nilai sikap dan kehadiran siswa dalam proses pembelajaran.
7.        Bagaimana cara memancing apersepsi anak? Apakah menggunakan metode yang bervariasi? Berikan contohnya!
Menurut pernyataan narasumber dalam proses apersepsi guru hanya melakukan proses tanya jawab untuk mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang akan dibahas.
Contohnya,
Materi yang akan dibahas pada pertemuan sekarang adalah mengenai simetri lipat pada bangun datar. Guru mengaitkan materi dengan materi yang telah dibahas sebelumnya, yaitu menanyakan “kalian masih ingat tentang materi bangun datar minggu lalu?”, “bangun datar apa saja yang sudah kita pelajari?” dan pertanyaan-pertanyaan terkait lainnya.
8.        Bagaimana cara mengelola kelas agar efektif? Bagaimana mengatasi masalah yang biasanya timbul dalam pengelolaan kelas?
Menurut pertanyaan narasumber cara mengelola kelas agar efektif adalah dengan cara menerapkan metode-metode pembelajaran yang bervariasi tergantung pada materi bahasan serta mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan siswa.
Cara mengatasi masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas menurut pernyataan narasumber adalah dengan melihat terlebih dahulu masalah apa yang dialami siswa, masalah di bagi menjadi 2 antara lain, masalah pembelajaran dan sikap siswa dikelas. Saat siswa mengalami masalah dalam pembelajaran, narasumber melakukan beberapa langkah antara lain:
a.         Pengajaran individu kepada siswa yang bersangkutan tentang materi yang belum dipahami
b.         Melakukan penggulangan penjelasan materi apabila sebagian besar siswa tidak memahami materi.
Saat siswa mengalami masalah sikap yang kurang baik saat proses pembelajaran narasumber melakukan beberapa langkah antara lain:
a.         Melakukan pendekatan secara individu kepada siswa yang bermasalah mengenai sikap yang kurang baik pada proses pembelajaran.
b.         Mencari solusi atau alternatif pemecahan masalah yang dialami oleh siswa tersebut.
9.        Bagaimana mengelola kondisi emosional siswa? Apakah digunakan pada proses penilaian?
Menurut narasumber cara mengelola kondisi emosional siswa dengan cara mengemas pembelajaran yang dapat diterima oleh semua siswa, sehingga nantinya fokus siswa terhadap proses pembelajaran dapat terjaga. Dalam proses penilaian yang dilakukan oleh narasumber mengamati sikap (Emosional) siswa dilakukan dalam proses pembelajaran dan dilakukan pencatatan dengan lembar observasi (Penilaian Afektif).
10.    Apa indikator keberhasilan pembelajaran di kelas? Apakah ada pengaruh subjetivitas?
Menurut penjelasan dari narasumber indikator keberhasilan pembelajaran siswa di kelas ditinjau dari keberhasilan siswa dalam memperoleh nilai yang sesuai dengan kriteria ketuntasan minimun (KKM). Dalam melakukan proses penilaian narasumber tidak melakukan secara subjektif melainkan secara objektif. Subjektif yang dimaksudkan disini adalah pengaruh dari latar belakang keluarga, kemampuan meteriaiil siswa, dll.  
11.    Apakah sudah terdapat piranti E-Learning? Bagaimana aplikasinya di sekolah?
Menurut pernyataan narasumber piranti, E-Learning sudah terdapat disekolah. Piranti tersebut mencakup LCD Proyektor, CD Pembelajaran, Buku Elektronik (BSE), kaset pembelajaran, dan tape recorder. Penerapan E-Learning di kelas sudah berjalan sebagaimana mestinya. Narasumber memanfaatkan segala fasilitas E-Learning dalam setiap proses pembelajaran.  
12.    Apakah dilibatkan langsung pada penyusunan kurikulum? Seperti apa bentuk keterlibatannya?
Pada penyusunan kurikulum narasumber tidak dilibatkan secara langsung. Keterlibatan narasumber hanya sebatas menyusun indikator yang akan menjadi acuan dalam menyusun tujuan pembelajaran.

Berikut ini dokumentasi kegiatan wawancara dengan narasumber.
 











 Gambar 1. Kegiatan Wawancara

C.      REFLEKSI HASIL WAWANCARA
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, terdapat berbagai refleksi mengenai pernyataan narasumber diatas. Pada dasarnya terdapat berbagai macam teori-teori belajar yang bertujuan memudahkan siswa dalam memahami suatu materi yang dipelajarinya. Salah satu teori yang populer saat ini dan juga diterapkan oleh narasumber adalah teori kontruktivisme. Teori konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang menekankan bahwa para siswa sebagai pebelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktif membangun pengetahuan secara individual (Student Center).  Hal senada juga disampaikan oleh Piaget yang mengemukakakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan keuntungan penerapan teori belajar kontruktivisme tersebut, narasumber selayaknya tetap mempertahankan penggunaan teori belajar ini, dan memahami prinsip-prinsip teori ini secara lebih kompleks.
Selain penerapan teori belajar yang dirasa cocok untuk siswa, guru harus mampu merencanakan proses pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswanya. Sehingga nantinya saat penerapannya guru sudah mempunyai suatu kesiapan tentang apa saja hal-hal yang akan dilakukan oleh anak didiknya dalam proses pembelajaran (Pengelolaan Kelas). Pada dasarnya pengelolaan kelas yang dilakukan oleh narasumber sudah cukup baik dan efektif. Dalam pengelolaan kelas narasumber menggunakan strategi dan metode belajar yang bervariasi yang disesuaikan dengan kesusaian meteri serta karakteristik siswa. Dengan penerapan strategi dan metode yang bervariasi, pengelolan kelas akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun bukan hanya strategi dan metode saja yang perlu disiapkan dalam upaya pengelolaan kelas yang optimal melainkan penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar yang kondusif.
Salah satu tujuan dari kegiatan pengelolan kelas adalah untuk meminimalisir terjadinya kegiatan penyelewengan perhatian dalam proses pembelajaran, selain itu tujuan pengelolaan kelas adalah untuk mencegah terjadinya sikap yang kurang baik dalam proses pembelajaran, berdasarkan hal tersebut maka disarankan kepada narasumber agar melaksanakan kegiatan pengelolaan kelas dengan seksama dan memperhatikan komponen-komponen tujuan pengeloloan kelas. Sehingga dampak positif dari pengelolaan kelas dapat terlihat yakni pembelajaran berlangsung secara kondusif dan penggelolaan emosional peserta didik dapat terlaksana dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pengelolaan kelas yang baik tercermin dari pemanfaatan media pembelajaran yang efektif dalam upaya memudahkan guru melakukan transfer pengetahuan kepada siswanya. Narasumber sudah memanfaatkan hal tersebut, dengan menggunakan piranti E-Learning dalam proses pembelajaran. Contoh penerapan E-Learning adalah dengan menggunakan media LCD proyektor dikombinasikan dengan CD pembelajaran. Selain itu guru juga memanfaatkan media kaset pembelajaran dikombinasikan dengan tape recorder. Dengan memanfaatkan piranti E-Learning pembelajaran yang dilakukan akan lebih inovatif sehingga membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Indikator berhasilnya suatu proses pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran, untuk mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran, dilakukan proses evaluasi untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam proses pembelajaran. Ketuntasan yang dimaksudkan disini adalah tercapainya kompetensi yang meliputi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Fungsi dari ketuntasan belajar adalah memastikan semua peserta didik menguasai kompetensi yang diharapkan dalam suatu materi ajar sebelum pindah kemateri ajar selanjutnya. Pada umumnya setiap sekolah membuat kriteria ketuntasan minimum (KKM) sebagai acuan dalam menentukan ketuntasan belajar anak didiknya. Hal ini sudah diterapkan oleh narasumber dalam kegiatan pembelajaran. Indikator keberhasilan tidak hanya dilihat dari tercapainya KKM yang telah ditetapkan, melainkan dapat dilihat dari proses pembelajaran yang dilalui siswa. Dalam proses pembelajaran tentunya terdapat suatu kegiatan pengembangan pemahaman materi ajar yang dilalui oleh siswa tesebut. Siswa yang awalnya tidak mengetahui menjadi tahu akan pengetahuan tersebut. Dalam proses pembelajaran akan terlihat perbedaan antar siswa yang sudah memahami materi ajar yang diajar dengan siswa yang belum memahami materi ajar yang diajarkan oleh guru. Tetapi penilaian proses mempunyai beberapa kelemahan bagi siswa yang memiliki sifat pemalu, sehingga dalam mengemukakan pendapat atau pemecahan masalah yang dibebankan dirinya akan tidak terjawab karena ketidak percayaan diri siswa tersebut. Penilaian proses ini lebih cenderung cocok bagi siswa aktif dalam setiap proses pembelajaran. Sedangkan apabila guru hanya melakukan tes tulis dalam mengetahui kemampuan siswanya dalam menyerap materi, memungkinkan banyak terjadinya suatu kecurangan dalam pelaksanaanya (Siswa mencontek, membuka buku, dll) sehingga hasil kerja siswa bukan hasil kerja sendiri melainkan dipengaruhi oleh faktor luar (Eksternal). Sebaiknya kedua kegiatan ini dikombinasikan agar memperoleh hasil yang seobjektif mungkin untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami pengetahuan yang diajarkan.
            Dalam melakukan setiap perencanaan pembelajaran peran kurikulum sangat penting, karena kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada siswa dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurut narasumber kurikulum yang diterapkan sekarang (KTSP) kurang efektif dalam hal administrasi perencanaan pembelajaran. Namun pada dasarnya tiap pergantian kurikulum, memiliki tujuan untuk menambal kekurangan dari kurikulum sebelumnya, menuju kurikulum yang lebih baik lagi. Kurikulum saat ini (KTSP) sudah memiliki beberapa kelebihan dari kurikulum sebelumnya.

D.      SIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh narasumber sudah sesuai dengan paradigma pendidikan. Guru sudah membuat administrasi komponen perencanaan pembelajaran yang sudah ditentukan. Selain itu dalam proses pembelajaran guru sudah mampu mengelola kelas dengan baik sehingga terindikasi bahwa tujuan pembelajaran yang diharapkan guru tercapai. Penggunaan piranti E-Learning dalam proses pembelajaran juga membantu guru dalam upaya memudahkan proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Dengan menggunakan piranti E-learning proses pembelajaran lebih menyenangkan dan siswa termotivasi untuk belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pengorganisasian strategi dalam proses pembelajaran juga dapat membantu berhasilnya proses pembelajaran. Indikator berhasilnya proses pembelajaran tercermin dari tercapainya kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang disepakati oleh sekolah. Penilaian yang dilakukan oleh guru lebih dominan pada penilaian proses karena menurut guru penilaian proses lebih objektif daripada penilaian hasil akhir. Jadi secara garis besar narasumber sudah memenuhi standar proses dan standar isi penyelenggaraan pendidikan.